Tips
Kesehatan, Jakarta - Kawat gigi atau behel bukan sekadar aksesori atau
pajangan di mulut. Kawat gigi ternyata bisa mencegah berbagai keluhan di
area mulut bahkan di organ vital tubuh lainnya akibat susunan gigi yang
tidak benar.
Dulu,
mengenakan kawat gigi dianggap aneh dan kuno. Banyak cerita tidak enak
mengenai alat bantu ortodontis ini, mulai dari rasa tidak nyaman hingga
emoh diolok-olok teman. Karena itu, kawat gigi yang juga dikenal dengan
istilah bracket ini merupakan benda yang sebisa mungkin dihindari oleh
orang-orang dengan susunan gigi amburadul.
Namun, anggapan
tersebut berubah setelah Tom Cruise, artis Holywood, mengenakan Iuntuk
merapikan susunan giginya. Banyak orang mengenakan bracket sekadar untuk
penampilan. Padahal, bracket tentu saja memiliki fungsi yang lebih
esensial, berkaitan dengan kesehatan gigi.
Dijelaskan oleh Drg.
Aditya Pribadi, Sp.Ort, ahli gigi dari RS Mitra Keluarga Bekasi, fungsi
utama bracket adalah memperbaiki susunan gigi dengan cara menarik secara
perlahan dan bertahap agar susunan gigi rapi seperti yang diinginkan.
Jika susunan gigi sudah benar, orang tersebut lebih mudah mengunyah
makanan.
"Gigi yang tidak rata mempersulit proses mengunyah dan
makanan yang dikunyah pun tidak benar-benar lumat. Nah, bagi orang yang
pencernaannya sensitif, makanan yang tidak benar-benar hancur tadi bisa
menjadi masalah," tutur Drg. Aditya.
Memicu stroke
Urusan kerapihan gigi ini tidak bisa
dianggap sepele. Tidak hanya bisa mengganggu pencernaan, tapi juga bisa
menimbulkan akibat ke seluruh tubuh.
Tidak percaya? Susunan gigi yang
amburadul membuat sela-sela gigi susah dibersihkan. Akibatnya gigi
gampang berlubang, keropos, timbul plak, gusi mudah berdarah, hingga
menimbulkan aroma tidak sedap dari mulut.
Kuman-kuman yang
bersarang di gigi juga bisa mengganggu kesehatan gusi dan saraf.
Beberapa referensi medis bahkan menyebutkan jika kuman gigi dibiarkan,
bisa merembet ke jantung bahkan bisa memicu terjadinya stroke!
Kawat
gigi, lanjut Drg. Aditya, merupakan solusi untuk memperbaiki susunan
gigi tersebut. Susunan gigi yang tergolong susah dikoreksi seperti gigi
tonggos pun bisa dibenahi dengan kawat gigi. "Ambil contoh pemain bola
Ronaldinho, jika ia mau, giginya bisa dibenahi dengan kawat gigi,"
ucapnya.
Rajin periksa
Hanya
saja, untuk mengenakan kawat gigi tak semudah yang diduga orang
kebanyakan. "Memasang kawat gigi ada prosesnya. Mulai dari pemeriksaan
gigi, foto susunan gigi, hingga membuat cetakan gigi pasien agar mudah
diketahui bagian mana saja yang harus dibenahi," kata Drg. Yulia Rachma,
Sp.Perio, ahli tulang dan penyangga gigi dari Klinik Matra Medika Kebon
Jeruk, Jakarta.
Lebih lanjut lagi, jika ada masalah pada gigi
dan gusi sebaiknya ditangani terlebih dahulu sebelum memakai kawat gigi.
"Kalau tidak nanti susah disembuhkan karena keburu terhalang kawat
gigi," imbuhnya.
Pemeriksaan foto rontgen diperlukan untuk
mengetahui susunan awal gigi orang tersebut, apakah ada gigi yang perlu
dicabut atau tidak. "Karena bisa jadi ada orang yang giginya besar tapi
ruang di gusinya kecil, sehingga gigi lain perlu 'dikorbankan' untuk
memberi ruang pada gigi yang hendak dikoreksi letaknya. Jika ukuran gigi
dan gusi sesuai, tak perlu ada 'tumbal' gigi lain," paparnya.
Setelah
mengenakan bracket, pasien tak langsung lolos dari klinik dokter gigi.
Pemeriksaan rutin wajib dilakukan tiga atau empat minggu sekali.
"Pemeriksaan ini sekaligus untuk menarik gigi secara bertahap. Kalau
tidak ditarik, gigi tidak akan bergeser ke posisi yang diinginkan," ujar
Drg. Aditya.
Lamanya pemakaian kawat gigi bergantung pada
kondisi dan seberapa besar posisi gigi yang harus dikoreksi. Semakin
banyak gigi atau posisi yang harus ditarik, semakin lama pula waktu
pemakaiannya. "Biasanya berkisar dua hingga tiga tahun, tapi bisa tambah
lama atau cepat, tergantung pola hidup si pasien," sebutnya.
Senyuman jutawan
Meski terlihat
menyiksa dan membutuhkan ketelatenan dalam merawatnya, hasil yang
didapat bakal setimpal. "Banyak mantan pengguna bracket yang puas dengan
bentuk dan fungsi gigi mereka setelah dikoreksi dengan kawat gigi,"
ungkap Drg. Aditya.
Meski demikian, hak untuk mengenakan kawat
gigi atau tidak tetap ada di tangan pasien. Jika pasien tidak mau
mengenakan kawat gigi, ia harus benar-benar menjaga kebersihan giginya.
"Nah, seringnya ada orang yang susunan giginya sudah benar ingin
mengenakan kawat gigi untuk ikut tren. Kalau giginya sehat dan tidak ada
masalah untuk apa kawat gigi?" imbuhnya.
Harga bracket tergolong
tidak murah untuk kebanyakan masyarakat Indonesia, yang juga bergantung
pada tempat pasien memasangnya. "Harga pemasangan dan perawatan kawat
gigi tidak murah. Itu sebabnya senyum gigi kawat dikenal dengan sebutan
senyum jutawan," ucap Drg. Yulia.
sumber: [kompas]